Ali Colections

My album

Sabtu, 22 November 2008

BUNGA – BUNGA RAFLES

BUNGA – BUNGA RAFLES

Inilah kamar Dayak tempat anak – anak hilang bergelimpangan. Kamar 10 Blok C1 yang dulu cukup diperhitungkan ketika Bang Roni masih duduk sebagai kepala kamar sebelum ia bebas 12 hari yang lalu. Meski predikat sebagai terpidana narkotika UU Darurat pasal 82/ 85/ 78 yang notabene adalah Napi termanis, namun sosoknya penuh wibawa dan cukup dihormati. Hukumannya yang 2 Tahun 7 Bulan subsider 2 juta/ 2 Bulan dijalani pelak/ polos. Indah rasanya dibawah naungannya yang tidak seperti Palkam- Palkam lainnya yang hanya di ktator dan pengkuras.

Kini sel ini tak ubahnya gua persemayaman kanibal – kanibal serakah. Semua berbuat semaunya, tak ada aturan, dan kerap terjadi kegaduhan yang ujung – ujungnya berakhir diselsus / III F atau lebih akrab lagi disebut sebagai sel isolasi atau sel pembantaian. Dimana para napi divermak habis yang tak jarang peluit – peluit sirene ambulans mengangkut jasad dari tempat itu yang kemudian memberi sekelumit penjelasan palsu kepada pihak keluarga yang ditinggalkan.

Memang ada banyak sel – sel dayak diLembaga ini . seperti halnya kamar 13 Blok CII, kamar 10 Blok DI, atau kamar 8 Blok B yang mungkin lebih angker dari kamar – kamar dayak Blok lainnya.Mungkin karena Blok B dikhususkan bagi tahanan berhukuman diatas 3 tahun, atau kebanyakan penghuninya sebagian besar tahanan stok lama yang menjadi langganan tetap Lembaga Pemasyarakatan.Sangat jauh berbeda dengan penghuni di Blok D yang dianggap sebagai tawanan para pemula kelas kacangan. Sebab memang ditempatkan hanya bagi terpidana hukuman bulanan. Namun kamar yang kini kudiami cukup tuk artikan kejinya sebuah pembuangan yang sarat keputus asaan. Penyempurna makna sehari bagai setahun adanya. Kadang membatin, adakah kan kunikmati lagi kebebasan itu. Sungguh sesuatu yang sulit dibayangkan dan teramat dini untuk dibicarakan. Jeruji yang congkak seolah bungkam segala harap, peluh asa yang memuncak, pembantai rindu yang teramat.

Siang ini kembali kuharus melacak. Mencari sekedar yang semestinya kututupi sore yang mencekam, agar tak terpingkal sipit – sipit tatap kawan sedayak, dan cuaca yang lain dari cuaca diluar sana, harus kuregang demi sekedar itu. Mengemis atau bertarung sekalipun. Dalam pencarianku, diLingkungan III EF, kudapati Jose yang dalam pertaubatannya sedang masyhuk bercanda dengan lalat- lalat mengerumuni kudis disebentuk kakinya. Sungguh jauh berbeda dari sosok Jose yang kukenal sebelumnya ketika ia masih melanglang buana diluar sana. Seorang brutal yang tak kenal belas budi kini lebih mirip orang bodoh. Mengikrarkan kepada orang – orang ihwal pertemuannya dengan Tuhan. Tuhan yang mengajarinya mengeja Firman – Firman. Atau penyakit yang harus dianggap sebagai teman, tak perlu diobati sama sekali. Ia seolah bangga akan orang – orang mengasingkannya dikarenakan sifatnya yang tidak bersahabat atau topik yang tak lepas dari iman dan keTuhanan melulu.
Ingin rasanya menemaninya dalam setiap celotehnya, namun aku belum mendapatkan apa – apa tuk sekedar disore yang mencekam itu. Meski demikian kuputuskan juga mendekat kepadanya.
“ Ahh…matahari sudah seperti sejengkal saja rasanya dari diubun – ubun ya Jos..” basa basiku sambil menatap angkasa dan sedikit melirik kearahnya. Ia hanya tersenyum saja membalas ucapanku dan kembali konsentrasi mengkupas – kupas koreng dikakinya yang sudah mongering.
“ Hukumanmu tinggal berapa bulan lagi..? apa sudah ngeroll atau bagaimana..?” cetusku kemudian. Dan jawabannya masih sebatas senyuman. Sejenak kutak ambil pusing akan hal itu. Kutanyakan lagi “ Ehh.. ingat gak waktu dulu kita ketaman lawang. Ketika itu…” belum selesai ucapanku, ia keburu meninggalkan aku dan pergi menapaki panasnya jalanan dengan kaki telanjangnya tanpa meninggalkan pesan apa – apa. Aku merasa dikadali, menjadi sedikit kikuk dengan orang – orang disekitarku yang meski mereka tak ambil perduli. Bersama sekubang kesal yang mencibir – cibir, kembali kuayun langkah disepanjang setapak. Diatas alas kakiku yang lain sebelah.

Dan dipagi hari tempat kucoret umur didinding kan kudapati
saat – saat yang selalu sama dengan hari – hari yang kulalui sebelumnya

DiBarat, tepatnya didepan kamar mandi umum, terjadi perang antar etnis. Entah apa pemicunya, yang jelas kedua pihak seolah antusias memenangkan pergumulan itu. Dibawah teduh rindang belimbing aku leluasa menyaksikan pertikaian. Tak terbersit dihati tuk turun kearena sebab tak satupun dipihak mereka rasku. Begitulah keadaan sebenarnya. Etnis adalah kekuatan prioritas dan taklah salah berlindung dibawah ketiak kepala suku, sebab didalam sini hal itu sangat lazim. Tak lama mereka saling bertikai dan memacu, Danton beserta Bapak – bapakan berdinas berhamburan dilapangan dengan tongkat setrum digenggaman. Sekejap saja tubuh – tubuh bergelimpangan bersamaan dengan jerit – jerit histeris yang memekik. Setelah kira – kira kedua belah pihak sudah agak terlerai, sekitar tiga lusinan orang digiring entah akan dibawa kemana. Mungkin ke… ingatanku kembali kesuatu ruang dimana seseorang harus tidur diatas kotorannya sendiri atau bahkan kotoran – kotoran orang sebelumnya.

Terdengar tiang – tiang besi diketuk dengan gembok, pertanda jam berkeliaran telah usai. Sebentar lagi tutup keong, dan kembali harus mendekami kandang – kandang pengubur asa yang congkak – congkak itu dengan tak kuasa tuk menghibur diri. Tempat dimana aku tak dapat melihat bulan dan bintang. Tempat pencengkeramaan bersama serangga – serangga penghisap darah yang terlalu lihai tuk diajak bermain kejar – kejaran. Dan dipagi hari tempat kucoret umur didinding kan kudapati saat – saat yang selalu sama dengan hari – hari yang kulalui sebelumnya. Mencari strategi baru cara menyiasati hari kiranya mentari lekas tergantikan rembulan , dan mendapatkan sesuatu disore harinya agar terhindar dari nasi cadongan yang lebih layak disebut sebagai makanan binatang . Sungguh benar – benar sesuatu yang tak pantas tuk dihidangkan bagi manusia.

Lukas menawarkan kecap sacetan yang tinggal sedikit lagi kepadaku sambil berkata “ Terimalah ini sebagai tanda cintaku kepadamu “. Mencoba membendung amarah dihati kusahuti ucapannya “ Bukankah aku yang menghadirkanmu didunia ini, dan sekarang kau ingin melakukannya denganku. Benar – benar anak durhaka..”. Lewat sunggingannya, ia membalas sambil meremas – remas barang miliknya, “ Takkah engkau ketahui bahwa kecapku bisa menghantarkanmu kedunia diluar sana”.
“ Akan lebih nikmat dengan silet diduburku ini” tukasku yang menghantarkan tawa seraknya. Dan aku cukup merasa bangga bisa menyelesaikan masalah kecil ini tanpa harus lewat adu otot segala.

Pria berkubang tato serampangan itu memang teramat suka melakukannya dengan orang sejenis yang bisa dikendalikan dibawah otak dan ototnya. Seperti Bob yang mengeluh susah buang air besar akibat perbuatan Lukas yang memperlakukannya selayaknya wanita ketika orang – orang sekamar tengah terlelap . Lukas, salah satu dari sebagian orang yang suka melakukan sex sejenis. Dan yang demikian itu bukanlah suatu yang tabu didalam sini. Dan hal itulah yang membuatku selalu terjaga dan was-was disetiap malamnya.

Dan apabila didalam keterlelapan, kan kembali hadir bayangan si korban laknat pendera peluh siksa igau –igauku mendatangi dan memburuku dengan pecut dilibas – libaskan kelantai yang hingga lantai pun meringis akan perihnya.

Malam gulita yang beranjak larut tak sedikitpun hantarkan aku pada sebersit kantuk. Aku masih berkutat dengan kipas penghalauku akan nyamuk – nyamuk tengil yang bersikeas ingin menghisap darahku. Padahal sebelumnya aku sudah katakan “Silahkan saja menghisap darahku asalkan tidak gatal, sakit dan berisik”. Namun mereka tetap saja menghisap secara brutal dan aku tak bisa terima itu. Belum lagi desah – desah onani gerandong anak bawah yang bagai kereta batu bara diera empat puluhan seakan hantarkan aku pada mimpi buruk sebelum tidurku. Aku seperti sepotong roti dilubang semut.

Itulah malam yang seolah membenciku. Dan apabila didalam keterlelapan, kan kembali hadir bayangan si korban laknat pendera peluh siksa igau –igauku mendatangi dan memburuku dengan pecut dilibas – libaskan kelantai yang hingga lantai pun meringis akan perihnya. Aku akan terus berlari dalam tidurku dengan benang tergulung rumit dikedua kakiku yang semakin dekatkan pengejarannya. Begitulah ia selalu datang disaat malam Jum’at dan malam senin. Apabila disaat – saat itu aku menghindar, ia akan datang diSabtu dan selasa. Dan pabila kuterjaga juga disaat itu, dia akan selalu hadir dimalam – malam yang lain. Malamku…. Malam kemenangan korbanku.

Khatam sudah terulas tindak bilah sangkur ihwal perjalanan yang merenggut segalung nama baik disinonim – sinonim peribahasaku.Menghantarkan renungan sanksi mengirimkan ruh ketitik asal meski sama sekali tidak kuinginkan.Menyematkan nista disebidang polos sapa – sapa dikhalayak diri. Sekantung pasal terbelenggu seperti pasung tersesati diri sendiri. Ingin kulayati jasad itu demi malam – malamku yang kelabu. Tetapi berondong cibir senggamai arti baik didasar hati. Dan Ohh…mimpi – mimpi, tampakkanlah kuburmu dalam kemayaan durja. Agar kugenang gundukmu dengan riak – riak sukma tulus dari piala ikhlas jiwaku yang terindah satu – satunya yang kumiliki. Perkenankanlah rujuk yang hendak kutuai digersang pembatas kita. Aku kalah dalam semua ini, dan kutak ingin perselisihan itu lagi. Maafkan lah aku wahai Ruh yang telah kuhantarkan .

Gerandong telah lelah dalam permainannya yang menyisakan aroma – aroma kawat berduri diriuh pesta pora serangga – serangga nekad. Gencar – gencar halauku pun telahlah melepuh seiring sorai drakula – drakula jaddah umbul – umbulkan kemerdekaan disegenap lesuku. Aku mulai pasrah pada malam untuk kesekian kalinya sebagaimana kupasrah pada petang dan senja.

Subuh pemenggal pergumulan malam menghantarkan aku pada sejengkal perut yang tak karu – karuan tingkah polahnya. Seolah tak mau tahu akan jam tayang korpe – korpe pemundak cadongan . Atau George sang juru kunci yang kan mendera terali dengan gembok raksasanya. Terngiang sudah aroma busuk cadongan hangat pagi dari dapur pembantai batang – batang pisang yang berlendir – lendir. Menyapa sejengkal perut yang ia membalas sapa “ HALLOWWWW…nya”.

Seorang Good Father yang bisa mendapatkan wanita tatkala ia menginginkannya . entah dengan cara apa, tetapi yang jelas ia bisa memperoleh dua penjaja birahi sekaligus dalam sebuah penjara yang sama sekali tak bisa menatap jalanan beraspal diluar sana.

Orang – orang Bar Bar berjalan menuju lapangan dengan menendang – nendang setiap jongkok yang menghalangi langkahnya. Mereka itulah para pengawalnya Xico sang Kaisar penjara. Dipagi seperti inilah ia sering muncul ditengah – tengah lapangan dengan jubah hitam dan seekor kera dipundaknya, ia akan terlebih dahulu melintasi setiap Blok diLembaga ini. Sosok yang disebut – sebut sebagai Escobarnya lembaga. Ialah sang rajanya narkotika , yang memang dengan leluasa mengedarkan barang – barang haramnya dilingkungan penjara dengan terang – terangan . Sang Rajanya massa, Rajanya kekayaan , dan Rajanya jalanan yang setiap Sabtunya menerima setoran setiap Forman – Forman Blok serta Lingkungan.

Xico terpidana seumur hidup mungkin satu – satunya manusia yang merasakan indahnya hidup dibui. Memproklamirkan diri sebagai Presiden dan Forman – Forman ialah Gubernur yang baginya pada tenggat waktu yang ditentukan wajib setor. Dan para Palkam – Palkam ialah hanya sebatas Camat yang tidak ada apa – apanya dikhalayak diri. Yang apabila ia telah angkat bicara , seluruh warga binaan hanya bisa meletakkan jemari telunjuknya diantara giginya yang kemudian menggigitnya alias gigit jari.
Seorang Good Father yang bisa mendapatkan wanita tatkala ia menginginkannya . entah dengan cara apa, tetapi yang jelas ia bisa memperoleh dua penjaja birahi sekaligus dalam sebuah penjara yang sama sekali tak bisa menatap jalanan beraspal diluar sana. Hukuman seolah rezeki baginya.

Pagi ini Xico datang tuk menemui Forman Blok B yang terkenal pembangkang. Aku yang melanglangkan khayalanku pada terik tega langit disebuah pos paste Blok B, secara tidak sengaja samar mendengar dialoq diantara mereka.
“ Wah..Fasilitas kamarmu boleh juga ya..” ucap suara datar yang kukira sebagai suaranya Xico.
“ Yahh..Begitulah Bang..” sang Forman mencoba akrabkan suasana.
“ Seminggu sudah kau tidak setor kepadaku. Apa sebab..”
“ Ngak ada besukan Bang..”
“ Dengar ya Hot..mungkin kau masih memandangku sebagai Xico kecil yang dulu kau pernah memasukkan anak ular disakuku, dan aku terbirit – birit. Tapi didalam sini kau tak ubahnya ayam kampung yang bisa aku sabung dengan ayam hutan milikku. Aku tak akan membeda - bedakan kau dengan yang lain. Itu berarti, bila kau membangkang maka kau harus terima resikonya. Dan hingga saat ini baru kau yang berani – beraninya berbuat demikian”.
“ Dan agar engkau ketahui, akulah Forman yang pertama kali yang tidak akan berikan apa – apa kepadamu hingga seterusnya. Didalam sini dan diluar sana. Karena engkau sendiri pun tahu, aku bisa membuatmu lari terbirit – birit dengan seekor anak ular”.
Sekejap aku terhentak mendengar tukas lantang sang Forman yang ternyata bernama Hotland itu. Aku masih ingat nama itu. Ya.., Hotland pembunuh bayaran yang kawakan dengan 18 tahun penjara. Nama yang pernah menghiasi media - media tatkala masih diluar sana. Terakhir tertangkap kasus pembunuhan pengusaha daur ulang biji plastik. Mengapa aku baru menyadarinya.

Terdengar kegaduhan dari dalam kamar 1 Blok B itu. Lima orang berbadan besar yang sedari tadi mengawasi diluar pintu masuk kedalam dan entah apa yang mereka perbuat. Aku hanya bisa mengira – ngira. Tak lama kemudian Xico keluar disusul kelima pengawalnya. Mereka pergi begitu saja dan melintasi setiap tongkrongan diBlok itu dan menuju lapangan dengan bekas – bekas darah menghiasi tato batik – batik. Xico begitu perkasa berjalan dengan kera bertengger dipundaknya. Dan lebih perkasa lagi bagi seorang Hotland yang hanya sebatas Forman.

Anak – anak Forman itu sibuk tak menentu. Keluar masuk dengan ember berisi air kemerah – merahan. Tak lama seorang dari mereka berlari menuju Rumah Sakit lembaga yang kemudian datang lagi dengan beberapa petugas berseragam putih. Tergolong lama juga mereka didalam kamar 1 Blok B itu. Selang beberapa menit kemudian keluarlah mereka dengan memapah seorang Hotland yang darah tak henti – hentinya mengucur dari mulutnya. Samar kusaksikan ada apa dengannya. Tapi yang jelas terlihat keadaannya begitu tragis dan nyaris.

Keesokan harinya tersiarlah kabar “Forman Blok B putus lidahnya” menjadi berita terhangat melebihi berita dimutasinya Tomy Soeharto. Petugas – petugas Lapas yang bisaanya paling gencar dalam menuntaskan urusan – urusan seperti ini, seolah manyun duduk manis. Hari itu juga digelar rapat Palkam guna pengangkatan Forman baru menggantikan kedudukan Hotland yang sudah tak lagi duduk disinggasananya. Sungguh malang nasib Hotland yang bandel. Sudah jatuh tertimpa tangga pula.

“ Hey..Kau Boby ya..” “Bukan Pak..Nama saya Raflesh” jawabku sedikit lega. Kemudian suara dibelakangku berseru “saya Boby Pak..” yang kemudian mereka menyeretnya keluar dan kembali menutup teralis

Aku manusia yang tak diharapkan, merasa tak guna menyilang – nyilang simbol – simbol didinding. Yang seiring hari terlalui menyiratkan wajah – wajah yang entah masih mengenang aku. Tapi yang kuketahui wujud – wujud itu tak pernah hilang dari ingatanku. Mungkin mereka lebih nyaman bila tanpaku mengusili giat – giat semangat hidup mereka. Ahh.. aku takkan menjahilinya lagi. Aku harus mencari satwaku sendiri. Tapi itu kelak. Kelak bila seutas nyawaku tidak terenggut disini.

Sherly istriku ialah yang kerap terngiang disetiap hela penandus lelahku. Perempuan yang selalu ingin kudapati meski ia telah kunikahi dan kumiliki seutuhnya. Ada ketakutan tak lagi kumiliki kebaikannya, pengertiannya, kehangatannya, dan ohh…mengapalah engkau tak datang membesukku disini.Lihatlah keterbujurannya aku.Kubutuh hibur – hiburmu, kubutuh aromamu yang biasa engkau kenakan ketika kita mengayuh perahu itu berdua saja. Hanya agar aku merasa terangsang. Agar aku merasa seolah – olah berada di syurga. Dan hanya aku yang tahu aroma itu. Dimanakah dirimu… apakah engkau juga sudah tak mengharapkan aku lagi ? betapa durjanya aku, betapa bangkrutnya aku, betapa nistanya aku.

Ketika aku menatapi mata Sherly dialun – alun khayalku, lampu – lampu mati seketika. Kekhawatiran merebak seiring gulita.inilah yang teramat ditakuti. Menggigil jiwa sejenak. “Operan..operan..” Bisik – bisik gelisah anak – anak gerandong hanya bisa sedikit kasak – kusuk. Sorot – sorot senter diluar tampak menari – nari kaku. Dentang – dentang gembok bercampur bentak – bentak lantang semakin dekatkan rintih jiwa. Operan karantina ialah hal yang menakutkan. Dan aku adalah salah satu dari sekian orang yang gentar menghadapinya.

Seperti operan – operan sebelumnya, tak seorang pun penghuni biang terali diberi kesempatan membekali diri. Begitu saja bagai diculik tatkala pijar – pijar sengaja dipadamkan dan tanpa pemberitahuan sebelumnya. Siapa saja yang merasa pantas akan merasa was – was akan adanya operan ini. Aku yang selalu membayangkan pulau itu sebagai alam yang lain merasa belum siap tuk menghadapinya tersebab desas – desus yang terlanjur kuartikan sadis. Tempat yang tak seorang pun tahu nasib penghuninya. Mungkin terkesan berlebihan. Namun begitu jugalah kira – kira yang lain mengartikannya.

Aku hanya bisa bodoh tatkala menatapi tampang – tampang sangar itu cekatan membuka gembok dan menyoroti acak seisi ruang sel yang menghantarkan kegelisahan anak – anak hilang. Aku hanya bisa pasrah ketika mereka masuk dan mulai mencari calon – calon ekspedisi mereka. Tiba – tiba kuterjelembab tatkala sebuah sepatu safety menendang kasar pahaku. “ Hey..Kau Boby ya..” “Bukan Pak..Nama saya Raflesh” jawabku sedikit lega. Kemudian suara dibelakangku berseru “saya Boby Pak..” yang kemudian mereka menyeretnya keluar dan kembali menutup teralis. Masih dapat kusaksikan sejenak tatapan Bob kepadaku sebelum punggung kering tak berbajunya hilang diujung tatap. Satu sorot mata yang teduh tanpa segurat getir. Mengapa ia bisa begitu tabah. Sementara selama ini ia tergolong gerandong terlemah dan tidak produktif. Dan aku… mengapa seperti ayam potong.. Aku jadi sangat kasihan kepada Boby yang harus menghabiskan dua Tahun sisa hukumannya diNusa Kambangan.

Pagi harinya riuh warga binaan bercerita tentang pengoperan itu. Sekitar 50 orang diangkut semalam. Dan kabarnya akan ada gelombang kedua tanpa ada yang tahu kapan tanggal mainnya. Aku hanya bisa memejamkan mata sembari memohon, semoga masih ada keberuntungan buatku dihari berikutnya. Dan kembali kucari sekedar itu. Demi suatu sore yang seolah segerombolan Zombie siap menghabisi.

Aku terdampar didusun tempat pertama kali dukun beranak memukul pantatku hingga kusaksikan malaikat – malaikat berwajah pucat menertawai aku. Tak lagi kuberbunga – bunga disegalanya. Benarlah adanya aku berbau bangkai.
Ini bulan terakhirku setelah hari Kemerdekaan yang memberkahi satu Bulan remisi sebagai belas itikad yang sejak lama kupupuki. Benarlah adanya satu bulan terakhir itu ialah saat yang paling teramat lama tuk ditempuh bila dibandingkan dengan hari – hari yang telah terlewati. Dan diBulan ini hawa dunia luar sudah mulai terasa samar melintasi indera penghirupku jarang – jarang. Sedikit keceriaan sudah mulai berani kutampangkan sebagai wujud dari semangat jiwa yang perlahan bangkit.

Kuputuskan tuk tak lelap dikala gulita agar bayang – bayang itu tak menodai sedikit cantiknya hati. Dan semata – mata kugantikan dengan parasnya Sherly istriku disela terawang – terawangku. Dan dipagi hari kubenahi sedikit kebugaran difisikku dan difikiranku. Agar nantinya pengaruh hawa dunia luar tak begitu asing dikhalayak diri. Dan sedikit demi sedikit simbol – simbol didinding itu sudah berangsur tuntas.

Seiring terik dan kelabu, berlabuh sudah silang ditambatan ujung kalender – kaalender simbol didinding. Dan tak dapat kugambarkan anugerah yang akan hantarkan aku kesebentuk wajah yang teramat sering mengiangi kegalauan. Seucap nama yang teramat riuh kusebut kepada penghuni – penghuni alam khayal. Sebagai bentuk kebahagiaan, kuciumi kening – kening tembok julang sang ayah teralis congkak dengan lembut penuh kasih saying. Kuanggap sudah persinggahan nista sebagai guru pemagar sekat rimbun jalar – jalar liar agung sisi buruk dihati.

Aku merasakan seakan – akan kestury tumbuh dibalik rusukku. Menyemerbaki sesat haluan bergemuruh menggulung sebentuk layar terkembang daun penjemput impian. Mencukuri bulu – bulu penyesak hawa – hawa suci didalam maupun diluar lindung peribahasa – peribahasa sukma dan menjadikan sebentuk saluran tuk alirkan mulia – mulia harkat disanubari yang memang sudahlah semestinya.

Aku melangkahi tebing pemisah dengan sekepal cita – cita yang hendak kusongsong seiring mentari baru menyambut hadirku kembali. Yang pertama sekali kusaksikan ialah ucapan selamat datang dari polusi – polusi udara bagai kunang – kunang memenuhi rumah diatas pohon. Seperti katak didalam tempurung sesaat kuingat – ingat kembali setapak. Setapak dilereng akan menuntunku menuju gubuk persemayaman bidadari pelipur rumit gundah – gundah. Aku berbunga – bunga disegalanya.

Meski dibenak terbersit kegelisahan , namun aku yakin aku akan disambut setidaknya oleh sang istriku yang kutahu masih sangat mencintaiku walau bagaimana pun. Yang kubayangkan ialah aku akan muncul bagai “My Way” nya Frank Sinatra persis ketika dulu ia pernah kupikat. Mungkin kini ia sedang mencuci. Mungkin sedang meneteki buah hati kami sambil terharu dengan telenovela diatas tikar anyam. Mungkin sedang memasak yang semoga itu daun ubi tumbuk kesukaanku. Dan yang pasti dia masih cantik seperti sedia kala. Dan aku masih berbunga – bunga disegalanya.

Satu – satu lampu jalan pun mulai terbangun dari lelapnya. Dan masih kutapaki susur – susur itu dengan sabar hingga memasuki saatnya tunaikan ikhlas disajian sajadah seadanya. Dan aku sangat yakin saat ini bidadariku pasti sedang menyertakan aku didalam panjat – panjat permohonannya. Setelah kurehatkan sejenak puji – pujiku kembali kulanjutkan langkah – langkah ini dengan seribu padu suka cita hingga kulihat sudah hiasan pintu itu. Aku bersembunyi dibalik pohon kapas besar untuk sekedar stabilkan debar yang menggebu dan memanjatkan syukurku yang tak terkatakan. Yah.. itu dia hiasan pintu buah tanganku. Hiasan pintu rumahku. Aku sudah sampai.

Seperti pencuri, aku mengendap – endap menapaki pekarangan asri bersama sejuta tanya. “Sedang apa dia..sedang apa dia..” Dengan bermaksud memberi sedikit kejutan. Samar kudengar tangis anak kecil mendayu – dayu dari dalam terpa pijar itu. “ Ahh..suara Ivand anakku. Sebesar apa dia kini..” Debarku semakin memacu – macu.

Kudapati pintu tak berpalang. Mengapa belum dipalang? Mungkin satu berkah dariNYA sebagai pemulus actingku. Seorang balita kecil dengan hidung mirip denganku tengah tidur – tiduran ditikar anyam sesekali menyisakan isak – isak jarang disela kantuknya. Sejenak kutatapi namun tak terbersit niat tuk mengusil mashyuknya meski tersangat ingin kurangkul Raflesh kecilku yang nantinya kan meronta – ronta sambil memukuli lembut dadaku. Betapakah nikmatnya. Tapi biarlah kutemui dulu ibumu.

Diremang temaram rona malam meniupkan bintik – bintik aneh bersama sepoi entah apalah itu. Yang jelas bukan serangga penghuni malam yang bersahut – sahutan. Berbisik lewat celah – celah bilik yang tak pertontonkan sekelumit mistery samar dibalik jubah yang putri – putri malu bersembunyi dibaliknya. Semakin kupertajam indera pencerna halusinasi – halusinasiku dan yang kudapatkan ialah desah – desah peraduan dari bilik – bilik yang kukaryakan. Desah – desah perempuan yang benar – benar sama dengan ketika aku berada didalamnya. Dan kutahu akulah yang selalu tawarkan desah – desah itu.

Dan benar kiranya desah itu ialah desah Sherly istriku hasil perpacuannya dengan seorang lelaki yang bukan diriku. Oh..apakah ini.. Aku tak sanggup mendengar bahasa – bahasa nista mereka dan derit – derit risbang yang juga buah karyaku, dimana bukan aku penunggangnya. Aku terkulai dibawah cibir – cibir setan dan jin – jin yang sukses mendramatisir haluan perahuku. Serta jelaslah sudah potret sepasang pengantin terbingkai indah disamping boneka – boneka penawar senyum mengungkapkan siapakah lelaki yang menunggangi didalam bilik itu. Oh Sherly… Mengapalah engkau tidak setia.

Ingin rasanya kubawa Raflesh kecilku bersamaku dan meninggalkan desah rintih dinikmat peluh – peluh mereka. Namun aku bertekad kuharus menyisakan satu yang baik , tak harus kusekarati lagi jiwa – jiwa mereka yang dulu pernah kusakiti. Ingin kurejami tubuh mereka berdua yang bercinta degan hatiku yang sakit dan luapan cemburu yang melaknat. Namun terngiang akan derita dibalik tembok dan jeruji congkak yang tak ingin kulayati kembali. Aku hancur sudah, kuroboh sudah, kurenta sudah, kumati sudah.

Kutinggalkan impian – impian itu dan kembali kumencari pelabuhan tempat kusandarkan jiwa gulana. Aku terdampar didusun tempat pertama kali dukun beranak memukul pantatku hingga kusaksikan malaikat – malaikat berwajah pucat menertawai aku. Tak lagi kuberbunga – bunga disegalanya. Benarlah adanya aku berbau bangkai.

dc

cat : * Palkam : Kepala kamar
* Nge Roll : Diproses
* Bapak – bapakan : Sipir
* Korpe : Pembantu
* Gerandong : Istilah miskin = anak bawah
* Kamar Dayak : Kamar tanpa Kepala Kamar
* Kecap sacet : Kecap ketengan
* Cadongan : Nasi penjara
* Tamping : Napi suruhan
* Operan : Mutasi
* Forman : Kepala Blok
* Pelak : Pasang badan/ hukuman dijalani penuh termasuk subsider
* Pos Paste : Pos Blok
* Raflesh : Diambil dari Rafhlesia arnoldi
* Selsus : Sel Khusus
* Tutup keong : Tutup pintu/ kamar
* Juru kunci : Petugas buka tutup kunci
* Divermak : Dihajar
* Melacak : Mencari/ menanduk
* Sekedar : Beras, uang, dsb
* Napol : Blok Tahanan Politik
( Kamus Bui )
Oleh


Moh. Ali M Pardede
Wartawan Mimbar Umum

Tidak ada komentar: